Showing posts with label Diabetes Mellitus. Show all posts
Showing posts with label Diabetes Mellitus. Show all posts

C.INDEKS GLIKEMIK DAN DIABETES MELLITUS
Umumnya penanganan menu makanan pada penderita DM lebih difokuskan pada porsi makanannya terutama karbohidrat. Hal ini dilakukan karena anggapan bahwa setiap karbohidrat pada jumlah yang sama memberikan efek yang sama pada peningkatan kadar gula darah.
Penelitian Heather Dkk, dalam Indeks Glikemik Pangan, menunjukan bahwa karbohidrat yang berbeda akan memberikan efek berbeda pada kadar gula darah dan respon insulin, walaupun diberikan dalam jumlah (Gram) sama.
Pada penderita DM fakta dari penelitian jangka menengah menunjukan bahwa penggantian karbohidrat yang memiliki IG tinggi dengan pangan yang memiliki IG rendah akan memperbaiki pengendalian glikemik.
Pada penelitian konsumsi pangan kedua subyek penelitian diberikan makanan pagi yang memiliki IG berbeda dengan komposisi zat gizi mikro yang konstan. Kemudian respon glukosa dan insulin diukur setelah makan siang dengan komposisi gizi yang sama hasilnya adalah respon glukosa dan insulin lebih tinggi pada kelompok makanan pagi dengan IG tinggi daripada kelompok IG rendah (Rimbawan, 2004).
Penelitian pada subyek non DM diperoleh bahwa dengan mengkonsumsi karbohidrat yang diserap lambat diperoleh puncak respon glukosa lebih rendah. Ini berarti karbohidrat yang memiliki IG rendah dapat memperlambat peningkatan kadar gula darah. Jenkins Dkk, telah merangkum berbagai hasil penelitian mengenai hubungan IG dengan resiko DM. Kesimpulannya bahwa penerapan konsep IG memberikan efek pencegahan dan bermanfaat pada penanganan penyakit kronik (Rimbawan, 2004).

Bookmark and Share

B. DIABETES MELLITUS
1. Definisi Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus adalah istilah kedokteran untuk sebutan gula atau kencing manis. Istilah ini berasal dari Bahasa Yunani. Diabetes artinya mengalir terus, melitus berarti madu atau manis. Jadi istilah ini menunjukan tentang keadaan tubuh penderita yaitu adanya cairan manis yang mengalir terus.
Menurut Setiawan (2006), Diabetes merupakan sekumpulan gejala yang timbul pada seseorang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi normal (hiperglikemi) akibat tubuh kekurangan insullin baik absolut maupun relatif.
Ada beberapa jenis diabetes yaitu DM tipe-1 atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus) dan DM tipe-2 atau disebut NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus). Ada diabetes yang disebabkan hal lain misalnya oleh kerusakan pankreas akibat kurang gizi disebut MRDM (Malnutrition Related Diabetes Mellitus). Dalam kelompok tipe lain ini termasuk pula DM karena faktor genetik, obat, hormon dan lain-lain. Ada juga jenis lain yaitu diabetes pada kehamilan ( Gestational Diabetes ), yang timbul hanya pada saat hamil (Sarwono W, 2002).

2. Patofisiologi
Seperti suatu mesin badan memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Disamping itu badan juga memerlukan energi agar sel badan dapat berfungsi dengan baik. Energi pada manusia berasal dari bahan makanan yang kita makan sehari-hari yang terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak.
Menurut Sarwono, 2002 pengelolaan bahan makanan dimulai di mulut kemudian kelambung selanjutnya ke usus. Didalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit dan hasil akhirnya adalah energi. Dalam proses metabolisme itu insulin memegang peranan penting. Insulin dihasilkan oleh sel betapankreas. Bila insulin tidak aktif, glukosa tidak dapat masuk sel akibatnya glokusa akan tetap berada didalam pembuluh darah yang artinya kadarnya didalam darah akan meningkat. Inilah yang terjadi pada DM tipe-1 sedangkan pada dm tipe-2 jumlah isulin normal malah mungkin lebih banyak tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada pemukaan sel kurang.
3. Patogenesis
Menurut Sarwono (2006) pada keadaan setelah makan terjadi penyerapan makanan seperti tepung-tepungan (karbohidrat) di usus, yang akan menyebabkan kadar glukosa darah (GD) meningkat. Peningkatan kadar GD ini akan merangsang pengeluaran hormon iinsulin. Oleh pengaruh hormon insulin ini glukosa dalam darah sebagian besar akan masuk kedalam berbagai macam sel tubuh dan sebagian lagi dipergunakan sebagai energi dalam sel tersebut.Dalam sel otot sebagian akan diubah menjadi glikogen, sebagian lagi diubah menjadi lemak dan dtimbun sebagai cadangan energi. Dengan demikian kadar GD akan turun sampai batas normal kembali. Dalam waktu dua jam kadar Gula darah akan normal kembali sekitar 70 – 110 mg/dl. Pada keadaan DM kadar insulin tubuh tidak mencukupi untuk mengatur gula darah agar tetap normal seperti pada orang normal non-DM, gejala yang mungkin sering timbul pada permulaan yaitu banyak makan, banyak minum, dan banyak kencing. Dalam fase ini biasanya penderita menunjukan berat badan yang terus bertambah,karena pada saat ini insulin masih mencukupi. Kadang-kadang diabetisi tidak menunjukkan gejala akut tetapi menunjukkan gejala yang sudah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap DM. Gejala kronik yang sering timbul yaitu (Askandar,2006):
1) Kesemutan.
2) Kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum.
3) Terasa tebal dikulit,sehingga kalau berjalan seperti diatas kasur.
4) Kram
5) Lelah, mudah mengantuk.
6) Mata kabur
7) Gatal disekitar kemaluan terutama wanita.
8) Gigi mudah goyah dan mudah lepas.
9) Kemampuan seksual menurun, bahkan impotent.
10) Pada ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan atau berat bayi lahir lebih dari 4 kg.

4. Diagnosis Diabetes Mellitus
Tindakan diagnosis dilakukan untuk menentukan apakah seseorang telah menderita penyakit DM atau belum. Diagnosis umumnya ditegakan berdasarkan keluhan penderita yang khas dan adanya peningkatan kadar glukosa darah yang ditentukan berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan.
Pemeriksaan laboratorium yang terpenting adalah pemeriksaan test toleransi glukosa oral standard WHO, pemeriksaan Glukohemoglobin dan fruktosamin, serta pemeriksaan insulin, c-peptide, dan insulin-anti bodi.
a. Pemeriksaan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) standard menurut WHO
Di Indonesia berdasarkan konsensus pemeriksaan glukosa darah pada pemeriksaan TTGO biasanya hanya dilakukan pada saat setelah menjalankan puasa ( 0 jam ) dan 2 jam setelah minum 75 g larutan glukosa. Setelah pemeriksaan dilakukan hasilnya dicocokan dengan standard yaitu :

Tabel 1
Kadar Glukosa Darah Puasa dan 2 Jam PP

Plasma Vena Darah Kapiler
Diabetes Mellitus
Puasa
2 jam
Toleransi Glukosa Terganggu
Puasa
2 jam
≥ 126 mg/dl
≥ 200 mg/dl

110 – 125 mg /dl
140 – 199 mg /dl
≥ 110 mg / dl
≥ 200 mg / dl

90 – 109 mg /dl
90 – 109 mg / dl

Sumber : Setiawan, 2006

b. Pemeriksaan Glikohemoglobin (HbA1c) dan Fruktosamin
Tes ini berguna sebagai indikator dalam memantau kontrol gula darah jangka panjang, diagnosis, penentuan prognosis dan pengelolaan penderita DM. Glikohemoglobin merupakan hasil reaksi glukosa dengan hemoglobin A(HbA)yang terbentuk dan terakumulasi dalam sel darah merah.Nilai normal Hba 1c adalah 4-6% dari Hb total. Jika perbandingan glycated hemoglobin melampaui 8% dari total HbA maka angka ini telah termasuk normal.Nilai yang melampaui 12% menggambarkan adanya glukosa darah yang tinggi(Hiperglikemi)dalam jangka waktu yang lama. Cara lain untuk melakukan pemantauan kontrol glukosa darah yaitu dengan pemeriksaan fruktosamin. Dengan cara ini dapat dinilai kontrol penyakit DM dalam jangka waktu 3 - 6 minggu sebelumnya. Kadar fruktosamin pada orang normal adalah 1,5-1,8 mMol/L. Bila hasil pengukuran >1,8 mMol/L maka berartikadar glukosa darah meninggi.
c. Pemeriksaan Insulin, C-Peptide, dan Insulin Antibodi
Pemeriksaan ini dapat dilakukan secaa radio immuno assey. Pemeriksaan kadar insulin sekarang digantikan dengan pemeriksaan C-Peptide yang lebih stabil dan disekresikan dalam jumlah yang sama dengan insulin. Insulin antibodi terdapat pada penderita DM yang mendapat pengobatan dengan suntikan Insulin. Pemeriksaan antibodi ini tidak relevan secara klinis. Sebaliknya, pemeriksaan antibodi terhadap insulin endogenus yang disebut insulinautoantibodi (IAA) sangat penting karena dapat terjadi pada 30 – 40 % anak yang menderita IDDM dan merupakan bagian dari respon auto imun (Setiawan, 2006).
5. Komplikasi
Yang paling dikwatirkan pada penderita DM bukanlah tingginya GD tetapi komplikasinya disadari bahwa bila sudah timbul komplikasi umumnya tidak dapat diperbaiki lagi dan dapat menimbulkan kecacatan bahkan mempercepat kematian. Kadar GD yang tinggi (GD puasa > 126 mg/dl) dianggap sebagai penyebab utama timbulnya komplikasi seperti penyakit jantung koroner, stroke, ganggren, gagal ginjal, buta, kesemutan dan disfungsi ereksi. (Sarwono, 2006).
6. Pengelolaan DM
Dalam pengelolaan DM dikenal 4 pilar utama yaitu :

a. Penyuluhan ( edukasi )
Diabetes Mellitus tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan.keberhasilan pengelolaan Diabetes Mellitus mandiri membutuhkan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Team Kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi.
Edukasi yang diberikan kepada pasien meliputi pemahaman tentang :
- Perjalanan penyakit DM
- Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
- Penyulit DM dan resikonya.
- Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target perawatan
- Interaksi antara asupan makanan, aktifitas fisik, dan obat hipoglikemik oral atau insulin serta obat-obatan lain.
- Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urin mandiri.
- Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit, atau hipoglikemi.
- Pentingnya latihan jasmani yang teratur
- Pentingnya perawatan diri
- Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan (Perkeni, 2006)
b. Perencanaan Makan / Terapi Gizi Medik
- Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan Diabetes Mellitus secara total. Kunci keberhasilan TGM adalah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota team (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan lain dan pasien itu sendiri).
- Setiap Diabetesi sebaiknya mendapat TGM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai target terapi.
- Prinsip pengaturan makan pada Diabetesi hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Pada diabetesi perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. (Perkeni, 2006).
Tujuan perencanaan makan adalah membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, dengan cara :
1) Menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin atau dengan obat penurunan glukosa oral
2) Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai berat badan normal
3) Menghindari atau menangani komplikasi akut pasien
4) Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang optimal
Syarat-syarat diit penyakit DM adalah (Sunita Almatsier, 2004) .
1) Energi cukup untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal ( 25 – 30 Kkal/kg BB normal ) ditambah kebutuhan untuk aktifitas fisik dan keadaan khusus.
2) Kebutuhan protein normal yaitu 10 – 15 % dari kebutuhan energi total
3) kebutuhan lemak sedang, yaitu 20 – 25 % dari kebutuhan energi total
4) kebutuhan karbohidrat adalah sisa kebutuhan energi total yaitu 60 – 70%
5) penggunaan gula murni dalam makanan dan minuman tidak diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai bumbu. Bila kadar glukosa darah sudah terkendali diperbolehkan mengkonsumsi gula murni sampai 5% dari kebutuhan energi total.
6) Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas ( seperti fruktosa, sorbitol, manitol, silitol, aspartam dan sakarin ).
7) Asupan serat dianjurkan 25 g/ hari dengan mengutamakan serat larut air yang terdapat didalamsayur dan buah.
8) Penderita DM dengan tekanan darah normal diperbolehkan mengkonsumsi natrium dalam bentuk garam dapur seperti orang sehat.
9) Cukup vitamin dan mineral


c. Latihan Jasmani
Program latihan jasmani yang dianjurkan adalah latihan aerobik secara teratur 3 – 4 kali per minggu @ 30 menit yang bersifat CRIPE (continuos, rhythmic, interval, progressive, endurance). Perlu diadakan penyesuaian kegiatan dengan kemampuan kondisi penyakit penyerta.
d. Obat Hipoglikemik
Apabila perencanaan makan, latihan jasmani dan penyuluhan tidak cukup berhasil untuk menurunkan kadar gula darah sampai ke batas normal, barulah penderita memerlukan obat hipoglikemik atau obat yang menurunkan kadar glukosa darah.
Ada 2 macam obat hipoglikemik yaitu berupa suntikan dan berupa tablet yang diminum. Ada 2 golongan obat hipo oral yaitu golongan sulfonyluria dan golongan biguanid. Ada banyak tablet maupun suntikan insulin. Dibawah ini contoh beberapa obat yang ada di Indonesia saat ini seperti : (Setiawan, 2006).

1. Golongan sulfonylurian
2. Golongan biguanit
3. Ascarbose
4. Insulin

Bookmark and Share

Indeks Glikemik merupakan suatu sistem yang menggunakan peringkat untuk menilai seberapa cepat glukosa dari suatu jenis makanan memasuki aliran darah atau seberapa cepat karbohidrat dalam makanan dapat meningkatkan kadar gula darah (Info Sehat Com.htm 07/06/2008 page 1 of 2).  Indeks Glikemik berguna untuk menentukan respon  glukosa darah terhadap jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Indeks Glikemik bahan makanan berbeda - beda tergantung pada fisiologi bukan pada kandungan bahan makanan. (Sarwono W, 2002). Konsep Indeks Glikemik pertama kali ditemukan oleh DR. David Jenskins tahun 1981, Professor Gizi di Universitas of Toronto Kanada, dalam rangka membantu pasien DM memilih atau menentukan makanan yang paling tepat.
Penyakit Diabetes mellitus (DM) atau lebih dikenal dengan penyakit kencing manis adalah   kumpulan  Gejala yang timbul pada seseorang karena kadar glukosa darah (GD) yang tinggi (hiperglikemi). Kadar gula tinggi disebabkan karena jumlah hormone insulin cukup bahkan kadang-kadang lebih tetapi kurang efektif (Resistensi insulin) (Sarwono, 2002).
Hasil berbagai penelitian menunjukan terjadi kecenderungan sekitar 171 juta orang di belahan bumi saat ini menderita DM dan keadaan ini diperkirakan akan meningkat menjadi 2 kali lipat pada tahun 2030          (World Health Organization (WHO), 2003) Terdapat 10 negara di Asia dengan jumlah penderita DM yang terbanyak, salah satu adalah Indonesia. Di Indonesia jumlah penderita DM mencapai 8.426.000 orang pada tahun 2000 atau prevalensi sekitar 4% dan diperkirakan tahun 2030  jumlahnya mencapai 21.257.000 orang (WHO 2005). Penyakit DM tipe 2 merupakan salah satu penyebab utama kematian penyakit tak menular di Indonesia, yaitu sekitar 2,1 % dari seluruh kematian (DEPKES 2000).
Prevalensi penyakit DM di propinsi Bali juga relative tinggi. Hal ini bisa dilihat dari jumlah kunjungan penderita rawat jalan di Rumah Sakit meningkat setiap tahunnya. Data laporan tahunan RSUP Sanglah Denpasar menunjukan jumlah penderita DM rawat jalan 7.746 orang tahun 2006 dan meningkat menjadi  8.606 orang tahun 2007 dan tahun 2008 data dari bulan Januari sampai dengan bulan Juli 2008 4.880 orang atau Prevalensinya sekitar 29,59% tahun 2006, dan 29,45% tahun 2007, serta 31,95% Januari s/d Juli  2008   (RSUP Sanglah tahun 2007) demikian juga pengamatan pada beberapa Rumah Sakit di Denpasar memperlihatkan kecenderungan peningkatan DM rawat jalan setiap tahunnya. 
Beberapa pasien Diabetes Mellitus yang sudah melaksanakan diet dengan benar, tetapi kadar gula darahnya masih tinggi. Umumnya penanganan diet pada penderita Diabetes Mellitus lebih difokuskan pada porsi makannya          (terutama karbohidrat). Hal ini dilakukan karena anggapan bahwa setiap karbohidrat pada jumlah yang sama memberikan efek yang sama terhadap peningkatan kadar gula darah (Rimbawan, 2004).
Menurut Byrnes dalam buku Indeks Glikemik Pangan penelitian jangka pendek pada manusia menunjukan bahwa kelompok yang mengkonsumsi karbohidrat ber-IG tinggi menghasilkan retensi insulin lebih tinggi daripada kelompok yang mengkonsumsi karbohidrat ber-IG rendah. Penelitian terakhir menunjukan bahwa karbohidrat yang berbeda akan memberikan efek yang berbeda pada kadar gula darah dan respon insulin, walaupun diberikan dalam jumlah gram yang sama. Hasil penelitian menunjukan bahwa pangan dengan indeks glikemik rendah dapat memperbaiki pengendalian metabolik pada penderita diabetes mellitus dewasa.
Peran utama Indeks Glikemik dalam penatalaksanaan diet pada penderita diabetes mellitus adalah untuk memudahkan pemilihan bahan makanan yang tidak menaikan kadar gula darah secara drastis. Dengan diketahuinya indeks glikemik pangan tunggal, campuran dan pangan olahan maka penderita diabetes mellitus secara mandiri dapat memilih makanan yang ber-IG rendah (Rimbawan, 2004)

Bookmark and Share